Kudus, SalokuNews.  Empat guru SMA Negeri 1 Jekulo Kamis (1/7/2026) melaksanakan kegiatan Diseminasi kerangka kerja deep learning (KKPN), inkuiri kolaboratif, pola pikir bertumbuh (PPB), dan papan interaktif digital (PID) kepada teman sejawatnya di ruang Multimedia. Kegiatan diseminasi tersebut merupakan rangkaian in house training (IHT) Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Tahun Pelajaran 2026/ SMA Negeri 1 Jekulo  yang berlangsung  2 hari Rabu-Kamis (30/6 – 1/7/2026).

Empat guru yang melaksanakan diseminasi adalah Dewi Suryani, S.T, Eni Dwi Astuti, S.Pd., M.Pd, Maimunah, S.Kom, dan Ayu Putri Febrianti, S.Pd. Mereka melakukan diseminasi secara bergantian.

Inkuiri Kolaboratif

Dewi Suryani memberikan diseminasi mengenai inkuiri kolaboratif (Pengelolaan dan Pemberdayaan Kelompok Kerja). Penjelasan inkuiri kolaboratif  secara komprehensif meliputi konsep, prinsip, nilai, dan tahapan siklus inkuiri kolaboratif sebagai pendekatan reflektif berbasis data. Tujuan  inkuiri kolaboratif  untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Menurut Dewi Suryani, inkuiri kolaboratif merupakan salah satu upaya optimalisasi Pengelolaan dan Pemberdayaan Kelompok Kerja (PPKK), yang mengintegrasikan pendekatan inkuiri kolaboratif sebagai sarana bagi pendidik untuk belajar bersama, menganalisis praktik pembelajaran, serta merancang strategi perbaikan secara berkelanjutan.

Manfaat pelatihan inkuiri kolaboratif antara lain guru mampu memahami dan menerapkan kerangka kerja pembelajaran mendalam, Guru juga mampu merancang pengalaman dan asesmen pembelajaran mendalam. Dari hasil rancangan tersebut, guru mampu menyusun dan mengimplementasikan rencana pembelajaran. Selanjutnya melakukan  refleksi atas praktik pembelajaran. Manfaat lain guru berpartisipasi aktif dalam kolaborasi inkuiri di tingkat sekolah maupun forum profesional  seperti PKG, KKG, dan MGMP.

Pola Pikir Bertumbuh

Diseminasi Eni Dwi Astutui mengenai Pola Pikir Bertumbuh (PPB). Menurut Eni Dwi Astuti, pola pikir (mind set) merupakan kumpulan keyakinan yang akan menentukan cara seseorang melihat dan berfikir terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Pola pikir akan mendikte tindakan yang dilakukan  serta akan menentukan hasil yang diperoleh. Pola pikir adalah fondasi dari ketrampilan  dan alat. Pola pikir juga merupakan cara melihat dan cara berfikir saat menghadapi masalah.  Pola pikir berperan untuk memperluas cara seseorang dalam melihat dan berfikir.

Ada 2 pola pikir yaitu pola pikir bertumbuh (PPB) dan pola pikir tetap (PPT). Pola Pikir Bertumbuh adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran dari pengalaman, serta melihat tantangan sebagai peluang. Dalam pembelajaran, PPB diperlukan untuk membantu murid  menghadapi kegagalan, menumbuhkan motivasi, dan mendorong kreativitas.

Sementara  itu, pola pikir tetap adalah keyakinan bahwa kemampuan bersifat bawaan dan tidak dapat diubah. Perspektif ini membuat individu memandang keberhasilan atau kegagalan sebagai cerminan dari kemampuan bawaan, yang seringkali membatasi pertumbuhan pribadi.

Berbeda dengan pola pikir tetap, PPB fokus pada proses dan usaha, sedangkan PPT menganggap kemampuan tidak berubah dan lebih fokus pada hasil akhir.

Dalam ekosistem pembelajaran, PPB menjadi landasan mental guru  untuk memperbaiki pembelajaran. Bagi guru, PPB merupakan landasan mental untuk aktif merefleksikan dan memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan, baik mandiri maupun berkelompok dalam komunitas, bersinergi dan kolaboratif mencari solusi terbaik.

PPB dalam refleksi diri guru dan anggota komunitas menjadi landasan mentalnya untuk menumbuhkan regulasi dan pengembangan diri, serta keberterimaan program baru. Sementara dalam refleksi guru terhadap murid, guru memahami kebutuhan murid seperti memberikan interfensi atau menfasilitasi dalam pembelajaran serta memuliakan murid melalui inklusi dan diferensiasi.

Peran ketua kelompok  dalam refleksi pemimpin komunitas belajar  adalah melakukan identifikasi intervensi relevan sehingga mendorong guru memiliki PPB dan menciptakan komunitas reflektif  serta inovatif.

Kerangka Kerja Pembelajara Mendalam

Ayu Putri Febrianti memaparkan kerangka kerja pembelajaran mendalam (KKPM).  KKPM dalam pendidikan bertumpu pada 4 pilar utama yaitu praktik pedagogik, lingkungan belajar, pemanfaatan digital, dan kemitraan pembelajaran.

Praktik Pedagogis merupakan strategi mengajar yang interaktif dan berpusat pada murid seperti pembelajaran berbasis masalah atau proyek yang mendorong pemikiran kritis. Guru memandu murid melalui tiga tahapan utama: memahami konsep, mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, dan melakukan refleksi.

Lingkungan belajar berupa integrasi ruang fisik, virtual, dan budaya kelas yang aman dan inklusif agar murid lebih aktif berpartisipasi untuk  mendukung tiga pilar utama pembelajaran mendalam:  mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan). Tiga pilar utama pembelajaran mendalam ini menggeser fokus murid dari sekadar menghafal fakta menjadi pemahaman konseptual dan pemecahan masalah.

Pemanfaatan digital artinya penggunaan teknologi sebagai katalisator untuk membuat pembelajaran lebih kontekstual, kolaboratif, dan mudah diakses. Pendekatan ini terbukti meningkatkan motivasi murid dan kualitas hasil belajar secara signifikan.

Sedangkan kemitraan pembelajaran merupakan kolaborasi aktif yang melibatkan guru, murid, orang tua, komunitas, dan profesional untuk mendukung keberhasilan murid.  Cara Ini dapat menghubungkan teori di kelas dengan dunia nyata melalui praktisi, orang tua, atau dunia usaha.

Manfaat KKPM  antara lain  menyelaraskan tujuan dengan praktik kelas, memastikan konsistensi pengajaran, mendukung evaluasi berkelanjutan, dan meningkatkan pemahaman murid  secara menyeluruh.

Papan Interaktif Digital

Maimunah memaparkan papan interaktif digital (PID)  atau interactive flat panel (IFP) adalah perangkat layar sentuh berukuran besar yang berfungsi seperti komputer, papan tulis, dan proyektor. Perangkat ini dilengkapi sistem operasi Android/Windows, mendukung kolaborasi multi-touch (sentuhan ganda), dan digunakan untuk menghadirkan pembelajaran modern yang interaktif, visual, dan menyenangkan.

Fitur dan kelengkapan PID antara lain sentuhan interaktif, media kaya visual, aksesibilitas inklusif, dan konektvitas tanpa kabel.  Sentuhan interaktif membuat murid dan guru dapat menulis, menggambar, hingga menggeser objek langsung di layar menggunakan jari atau stylus.

PID  memudahkan integrasi aplikasi edukasi, video, simulasi sains (seperti simulasi tekanan dan partikel), dan game edukasi berbasis AI (Kecerdasan Buatan).  PID juga dilengkapi aksesibilitas inklusif.  PID dilengkapi fitur yang mempermudah interaksi bagi murid  penyandang disabilitas dan  memastikan kesempatan belajar yang setara. Dengan konektivitas tanpa kabel, memungkinkan guru dan murid menampilkan layar (screen mirroring) dari laptop, ponsel, atau tablet secara langsung ke layar utama untuk presentasi dan diskusi kelompok.

Melalui kegiatan diseminasi ini, Maiunah berharap PID tidak lagi sekadar menjadi pengganti papan tulis konvensional, melainkan katalisator dalam menciptakan pembelajaran mendalam (deep learning) di kelas.

Dengan mengoptimalkan berbagai fitur interaktifnya, rekan-rekan guru dapat menyajikan materi yang lebih kontekstual, memantik daya kritis murid, dan memfasilitasi kolaborasi yang lebih aktif dan bermakna antara guru dan murid.

Maimunah berharap  diseminasi PID  ini dapat memperkuat ekosistem digital di SMA Negeri 1 Jekulo melalui semangat saling menginspirasi antar-teman sejawat. ”Semoga setelah ini, kita semua semakin percaya diri untuk mengeksplorasi PID bersama murid,” kata Maimunah.

Harapan dari eksplorasi PID antara guru dan murid membuat proses transformasi pembelajaran digital berjalan beriringan.  Murid sebagai generasi Z dalam menghadapi perkembangan teknologi digital,  tidak hanya responsif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki pemahaman konsep yang kokoh dan mendalam.