{"id":3358,"date":"2026-11-02T04:41:54","date_gmt":"2026-11-01T21:41:54","guid":{"rendered":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/?p=3358"},"modified":"2026-11-02T04:55:57","modified_gmt":"2026-11-01T21:55:57","slug":"patriotik-gigih-dan-berempati-pemuda-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/2026\/11\/02\/patriotik-gigih-dan-berempati-pemuda-indonesia\/","title":{"rendered":"Patriotik, Gigih, dan Berempati Pemuda Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><em>Kudus, SalokuNews.<\/em> Upaya membangun generasi emas, Indonesia bertekad membentuk karakter generasi muda yang patriotik, gigih dan berempati dalam kemanusiaan. Pembangunan karakter generasi muda adalah pemuda yang hatinya mencintai tanah air, jiwa yang tidak menyerah, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.<\/p>\n<p>Demikian sambutan Menteri Pemuda dan Olah Raga Erick Thohir dalam Sambutan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 \u00a0tahun 2026. Sambutan yang dibacakan pembina upacara Imam Subehi, S.Ag., M.S.I., pada Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 \u00a0tahun 2026 di SMA Negeri 1 Jekulo berlangsung khidmat dan lancar.<\/p>\n<p>Erick\u00a0 Thohir memaparkan bahwa pemuda Indonesia yang patriotik generasi muda yang mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui pengabdian dan tindakan nyata. Demikian pula generasi muda yang gigih \u00a0adalah mereka\u00a0 yang tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan dan kegagalan, serta tidak berhenti berjuang sebelum memberikan yang terbaik bagi bangsa. Sementara generasi muda yang berempati itu tidak hanya memikirkan keberhasilan dirinya sendiri, tetapi juga merasakan kesulitan \u00a0dan pertolongan saudara atau temannya.<\/p>\n<p>Pembangunan karakter \u00a0generasi muda ini merupakan kelanjutan dari perjuangan pemuda Indonesia tahun 1928 yang berhasil menggelorakan Sumpah Pemuda. Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, para pemuda Indonesia mengikrarkan sebuah janji. Janji yang menyatukan perbedaan. Janji yang menguatkan perjuangan. Janji yang melahirkan tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa: Indonesia.<\/p>\n<p>Semangat itu harus terus hidup. Bukan hanya dalam ingatan kita, tetapi dalam karakter setiap generasi penerus bangsa. Indonesia berusaha membangun bangsanya menjadi maju, dimulai dari karakter manusianya. Karena penerus bangsa adalah generasi muda, maka pembangunan dimulai dari karakternya \u00a0yaitu mencintai tanah air, tidak menyerah, dan peduli terhadap sesama.Semua itu untuk membentuk kemajuan sejati.<\/p>\n<p>Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arahnya. Kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya. Bermimpilah generasi muda setinggi \u00a0langit dan \u00a0bekerja sekeras mungkin. Jadilah manusia yang kuat, tetapi jangan kehilangan kelembutan hati. Jadilah generasi yang berani memimpin, tetapi juga bersedia melayani. Generasi yang mampu berdiri tegak untuk bangsanya, sekaligus mengulurkan tangan kepada sesamanya.<\/p>\n<p>Masa depan mereka adalah sesuatu yang sedang dibangun bersama. Jadikanlah setiap ilmu, setiap karya, dan setiap pengorbanan sebagai bukti cinta kita kepada Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kudus, SalokuNews. Upaya membangun generasi emas, Indonesia bertekad membentuk karakter generasi muda yang patriotik, gigih dan berempati dalam kemanusiaan. Pembangunan karakter generasi muda adalah pemuda yang hatinya mencintai tanah air, jiwa yang tidak menyerah, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Demikian sambutan Menteri Pemuda dan Olah Raga Erick Thohir dalam Sambutan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 \u00a0tahun 2026. Sambutan yang dibacakan pembina upacara Imam Subehi, S.Ag., M.S.I., pada Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 \u00a0tahun 2026 di SMA Negeri 1 Jekulo berlangsung khidmat dan lancar. Erick\u00a0 Thohir memaparkan bahwa pemuda Indonesia yang patriotik generasi muda yang mencintai Indonesia bukan hanya dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3364,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3358"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3361,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3358\/revisions\/3361"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}