{"id":3038,"date":"2026-09-24T08:22:09","date_gmt":"2026-09-24T01:22:09","guid":{"rendered":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/?p=3038"},"modified":"2026-09-24T08:36:53","modified_gmt":"2026-09-24T01:36:53","slug":"dari-hukum-newton-hingga-larangan-bullying","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/2026\/09\/24\/dari-hukum-newton-hingga-larangan-bullying\/","title":{"rendered":"Dari Hukum Newton hingga Larangan Bullying"},"content":{"rendered":"<p><em>Kudus, SalokuNews<\/em>&#8211; Prinsip hukum Newton \u00a0atau inersia \u00a0di fisika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari \u00a0murid. \u00a0Sama halnya gaya eksternal yang dapat menggerakkan benda mati, dorongan kuat dalam diri murid dapat melawan rasa malas dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Demkian amanat \u00a0pembina upacara Istianah, S.Pd pada Upacara Bendera Senin (21\/9\/2.2016) di lapangan sekolah.<\/p>\n<p>Menurut Istianah, dorongan yang dalam hukum fisika \u00a0merupakan gaya sangat diperlukan untuk terjadinya perubahan. \u00a0Gaya dalam keseharian seperti kemauan belajar, berani mencoba, dan \u00a0tidak pantang menyerah. \u201cKalau kalian ingin kehidupan kalian berubah, harus ada gaya yang kalian berikan kepada diri sendiri. Gaya itu bisa berupa kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba,\u00a0 dan keteguhan untuk tidak menyerah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u201cSeseorang yang sudah terbiasa malas, tanpa adanya dorongan dari dalam dirinya, akan cenderung tetap malas. Seseorang yang terbiasa menunda tugas, akan cenderung terus menunda. Seseorang yang takut mencoba karena takut gagal atau takut ditertawakan, mereka akan tetap berada di tempat yang sama yang takut dan tak mau mencoba. Itulah inersia dalam kehidupan\u201d papar Istianah.<\/p>\n<p>Istianah berharap agar murid-murid SMA Negeri 1 Jekulo mulai saat ini menerapkan gaya \u00a0hukum inersia dalam kehidupannya.\u00a0 Tujuannya agar terjadinya perubahan dalam diri murid-murid.<\/p>\n<p>Selain menekankan pentingnya motivasi diri, Istianah juga menegaskan larangan keras terhadap segala bentuk perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, termasuk kebiasaan mengejek atau memanggil sesama siswa menggunakan nama orang tua. Ia mengingatkan agar murid- murid tetap menjaga batasan dalam bercanda dan tidak menyakiti perasaan orang lain.<\/p>\n<p>Amanat tersebut diakhiri dengan ajakan bagi seluruh warga sekolah untuk senantiasa mengevaluasi diri serta menjaga kebiasaan dan perilaku sehari-hari.\u00a0 \u2018Marilah kita ingat dan laksanakan mulai hari ini. Tingkatkan gaya, ciptakan perubahan,\u201d tambah Istianah.<\/p>\n<p>Upacara bendera \u00a0diikuti \u00a0seluruh warga SMA Negeri 1 Jekulo dengan khidmat dan tertib. Petugas upacara kali ini semua murid kelas XI F04. Pada kesempatan tersebut pembina upacara \u00a0mengaprsiasi murid kelas XI F04 yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik.<\/p>\n<p>Rangkaian acara meliputi pengibaran bendera merah putih, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, pembukaan UUD 1945, dan Ikrar Pelajar Indonesia, serta amanat pembina upacara, pemenyanyikan lagu\u00a0 Rukun sama teman, dan penutup doa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kudus, SalokuNews&#8211; Prinsip hukum Newton \u00a0atau inersia \u00a0di fisika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari \u00a0murid. \u00a0Sama halnya gaya eksternal yang dapat menggerakkan benda mati, dorongan kuat dalam diri murid dapat melawan rasa malas dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Demkian amanat \u00a0pembina upacara Istianah, S.Pd pada Upacara Bendera Senin (21\/9\/2.2016) di lapangan sekolah. Menurut Istianah, dorongan yang dalam hukum fisika \u00a0merupakan gaya sangat diperlukan untuk terjadinya perubahan. \u00a0Gaya dalam keseharian seperti kemauan belajar, berani mencoba, dan \u00a0tidak pantang menyerah. \u201cKalau kalian ingin kehidupan kalian berubah, harus ada gaya yang kalian berikan kepada diri sendiri. Gaya itu bisa berupa kemauan untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3040,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3038"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3038\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3039,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3038\/revisions\/3039"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sma1jekulo.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}