
Kudus, SalokuNews. Menjalin tali persaudaraan dan kasih sayang antarmanusia tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban bertatap muka. Silaturahmi antarkeluarga besar SMA Negeri 1 Jekulo (Saloku) dapat merawat nilai-nilai kemanusiaan yang mudah hilang pada era perubahan zaman dan teknologi. Karena itu silaturahmi yang dilaksanakan setiap 3 bulan harus terus dijaga.
Demikian tausiah yang disampaikan Kyai Mustain Ihsan dalam Pertemuan Rutin Ikatan Keluarga SMA Negeri 1 Jekulo di rumah Haria Bita Prasetya, S.Pd., Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kudus, Minggu (11/10/2026).
Menurut Kyai Mustain, silaturahmi tatap muka berbeda dengan silaturahmi daring seperti melalui ponsel. Hal ini karena dalam silaturahmi yang bertemu langsung, kita dapat menghadirkan seluruh indra, merasakan kehangatan jabat tangan, dan tatapan mata yang tulus. Sementara silaturahmi on line hanya melibatkan visual dan audio dua dimensi.
Kegiatan IKA Saloku tersebut dengan secara bergantian mendatangi rumah anggotanya menurut Kyai Mustain sangat bagus lantaran dapat menyambung silaturahmi antarkeluarga SMA Negeri 1 Jekulo. Tatap muka langsung tetap menjadi ritual sakral untuk merawat kemanusiaan kita. Sebab, ikatan batin antarmanusia tidak dirajut oleh sinyal seluler, melainkan oleh kehadiran jiwa yang utuh di dunia nyata.
Pada kesempatan tersebut, Kyai Mustain juga menyampaikan 3 hal yang membuat keimanan manusia dapat bertambah. Pertama, sabar mendapat cobaan. Sabar bukan berarti bersikap pasif, lemah, atau pasrah berpangku tangan menerima nasib buruk. Sabar sejatinya adalah sebuah kekuatan spiritual aktif yang mengendalikan gejolak amarah di dada, mengerem lisan agar tidak meracau, dan memaksa kaki untuk tetap melangkah di jalan yang diridhai-Nya. Pada saat mendapat ujian orang harus sabar. Oleh karena sesunguhnya ujian adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menggugurkan dosa dan menaikkan derajat jiwa.
Kedua, bersyukur atas segala pemberian Allah. Bersyukur atas segala pemberian Allah merupakan kunci utama untuk menghentikan kegelisahan batin manusia. Syukur mengubah total cara pandang (mindset) manusia terhadap kehidupan. Saat seseorang bersyukur, fokus perhatiannya bergeser dari apa yang belum dimiliki atau hilang menjadi apa yang sudah ada dan diterima. Karena itu, bersyukur merupakan cara terbaik untuk merawat kemanusiaan kita sekaligus menjadi hamba yang tahu diri di hadapan Sang Pemilik Semesta
Ketiga, rida terhadap qada dan qadar. Qada merupakan ketetapan, rencana, dan kehendak Allah SWT sejak zaman azali (zaman sebelum alam semesta diciptakan) mengenai segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk-Nya. Pada saat ketetapan atau rencana tersebut benar-benar mewujud dan terjadi di dunia nyata, momen realisasi itulah yang disebut dengan qadar. Selanjutnya ketetapan dan realisasinya membentuk apa yang kita kenal sebagai takdir.
Sementara itu, rida merupakan ketenangan jiwa dalam menerima segala keputusan, hukum, serta takdir Allah SWT tanpa melakukan protes, perlawanan batin, ataupun berkeluh kesah. Memiliki sikap rida terhadap qada dan qadar merupakan benteng terbaik untuk menjaga ketenangan jiwa manusia di tengah badai cobaan hidup.
Dengan sabar, beryukur, dan rida terhadap qada dan qadar Allah SWT, maka akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang. Karena itu umat Islam perlu menanamkan keyakinan ini dalam hati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.




